![]() |
| Foto: NJlifehacks |
00:46
Malam ialah gelisah bagi pagi. Pagi ialah hantu bagi saat-saat setelahnya.
01:00
Saat dimana tepat lima tahun insomnia. Ialah musuh bagi lelap tidur saat mereka mencintai mimpi-mimpi indah.
![]() |
| Foto: Insomnia.net |
Tak habis-habisnya dipikirkan. Lima tahun adalah waktu yang tidak begitu singkat dan saya mulai bertanya-tanya. Tak ada jawaban! Lalu, pada suatu waktu yaitu malam tanpa purnama saya mulai mengakrabi hunian bernama Rumah Sakit. Demikian dibangun untuk orang-orang isakit. Memang, saya salah satu dari mereka.
02:25
Saat yang sama, tanya saya selama kurang lebih lima tahun menjumpai jawab. Hari dimana senyum saya menipu banyak orang. Termasuk setiap mereka yang saya cintai dan sebaliknya sempat berceloteh tentang umbar senyum beberapa saat yang lalu. Kata mereka, senyum itu ialah hal terindah yang pernah ada. Ada di balik poles bibir dan wajah, ini.
02:45
Tetapi mereka tak pernah tahu, dan memang saya tak ingin agar mereka tahu agar senyum itu senantiasa dinikmati walau tak abadi.
03:00
Hingga terakhir kalinya, saya sungguh total mengumbar senyum. Setidaknya sedikit berhasil membuat mereka bahagia. Mereka yang senantiasa merindukan senyum itu. Walau sebenarnya senyum itu ialah air mata. Ya, air mata yang sama. Seperti jawab atas tanya bertahun-tahun yang mengubang air mata.
03:30
Mengapa harus ada air mata? Mengapa bukan mata air?
04:00
Sesungguhnya darah adalah mata air itu. Lima tahun sudah cukup bagi darah yang menetes dalam mata yang tak pernah mengatup.
04:25
Datanglah air mata itu.
![]() |
| Foto: DeviantArt |
04:30
Ialah jawaban bijak sang dokter.
"Nak, setelah hari ini usai, tubuh dan darahmu serta semua tentangmu tak mampu mengimbangi nafasmu yang akan segera lepas dalam 3 x 24 jam. Nak, kamu mengerti kan?" Dokter dengan suara teduh mengatakannya. Ingin dilanjutkan kata-katanya ...
04:45
Tetapi segera keluar air mata dari bola mata ini. Ya, bola mata saya. Ialah isyarat kalau saya telah mengerti maksud beliau.
05:00
Saya selalu memuja kekuatan kata. Tetapi, tak ada kata di hari ini. Air mata mengalahkan segala, termasuk kekuatan itu. Saya mulai meyakini bahwa air mata adalah "kata" maha dahsyat. Kata yang menjadikan saya tak berkata-kata sekalipun dalam senyum. Kata yang akan segera menjadikan saya bisu dalam permainan angka 3 x 24.
05:30
Hingga tiba saatnya nanti, saya tak ingin agar air mata mengalahkan setiap senyum yang pernah diumbar. Agar setiap mereka yang pernah mencintainya, senyum itu. Tak berlinangan air mata di hadapan tubuh yang dingin dan kaku. Tak ada nafas.
06:00
Bahkan saat ini saya pohonkan doa agar Dia mengijinkan saya tersenyum dalam tubuh dingin dan kaku setelah 3 x 24. Saat dimana semuanya selesai...
dan selesailah sudah semuanya.
Oebobo-Kupang, 07052017
Herman Efriyanto Tanouf





Comments