Potret Kegelisahan “Penyair Kereta” Refleksi atas Puisi “Yin dan Yang” karya Julia Daniel Kotan



Oleh: Herman Efriyanto Tanouf*

 Ketika saya mencoba untuk membuat ulasan atas puisi dari Julia Daniel Kotan (JDK), jujur saja saya sempat bimbang. Sebab setiap kali membaca puisi-puisinya, secara personal saya dibawa masuk dalam ziarah bathin yang bergelimang rasukan emosi.Bagaimana kreativitas JDK?Lalu, ke manakah arah yang tepat untuk menggiring puisi-puisi JDK? Setelah khusuk dalam konflik yang lumayan “brutal” saya kemudian menemukan sandaran yang kuat untuk membuat ulasan. Sebagaimana konsep Todorov yang menandaskan bahwa dalam menafsirkan unsur-unsur karya sastra bisa dengan cara berspekulasi, sambil juga meraba-raba, tetapi sepenuhnya memiliki kesadaran diri, daripada merasa memiliki pemahaman tetapi masih buta. Oleh sebab itu, dengan sebongkah pengetahuan akan teori kritik sastra, saya meminjam istilah Yohanes Berchemans Ebang “dengan hati-hati saya menulis catatan ini.”


Terkait pertanyaan mendasar di atas, expressive critism (kritik atau pendekatan ekspresif) sangatlah tepat (hemat saya). Konsepnya yaitu pendekatan yang mengkaji ekspresi perasaan atau temperamen penulis (Abrams, 1981: 189). Dengan kata lain pendekatan yang menitikberatkan perhatian pada upaya pengarang atau penyair mengekspresikan ide-idenya ke dalam karya sastra (Semi, 1984). Pendekatan inilah yang menjadi kompas bagi saya dalam mengulas beberapa puisi JDK. Sebelum menelaah lebih jauh, perlu diketahui profil singkat sang penyair.

Julia Daniel Kotan adalah nama pena dari Yulia Sri Utami, kelahiran Lampung, 28 Mei 1972. Kecintaannya terhadap sastra mulai bertumbuh ketika SMA. Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi pada Universitas Sanata Dharma Jogyakarta Jurusan Bahasa Indonesia (PBSI) (tamat 1996) dengan judul skripsinya “Proses Kreatif Seno Gumira Ajidarma dalam Kumpulan Cerpen Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidarma”. Kemudian oleh Yayasan Sekolah tempatnya mengajar, JDK berkesempatan untuk melanjutkan studi master pada Universitas Pelita Harapan dan tamat pada tahun 2010 sebagai lulusan terbaik (cumlaude). Selain berprofesi sebagai seorang guru Bahasa Indonesia pada SMP Sta. Ursula Jakarta Pusat (1996 sampai sekarang), ia juga aktif dalam berbagai ajang apresiasi sastra. Di sana bersuakan para sastrawan dan sastrawati; beberapa di antaranya Joko Pinurbo, Sapardi, Seno Gumira, Nana Ernawati, Ewith Bahar, Hilda Winar, Dhenok Kristianti dan sosok-sosok penonggak sastra lainnya. Di bawah asuhan sosok-sosok tersebut, “Penyair Kereta” disandangnya (ratusan puisi diciptakan dalam rahim kereta – perjalanan keseharian). Keaktifannya dalam menulis dan mengirim puisi kemudian mengundang simpati pendiri dan pengasuh media  floressastra.com untuk menjadi sekretaris redaksi.

Dari profil tersebut, kita dapat membayangkan bagaimana kontribusi Penyair Kereta dalam menggeluti dunia puisi. Adalah sesuatu yang nyata bahwa beberapa pilihan puisinya termasuk bacaan kategori “terpopuler” pada media floressastra.com. Terpopuler hemat saya, terlepas dari seberapa banyak aktivitas “pembacaan” terhadap karya-karya tersebut juga lebih tertuju kepada “seni” dari sastra (puisi) itu sendiri. Nah, dalam situasi yang demikian apa yang menjadi kekhasan dari “Penyair Kereta?” 

Kreativitas “Penyair Kereta” dalam membangun puisinya.

Pada dasarnya, beberapa landasan kreativitas penyair dalam membangun puisinya, antara lain: figurative language (figura bahasa) yaitu majas atau citraan tertentu di dalam pikiran pembaca atau pendengarnya (Sudjiman, 1984: 4), ambiguitas kata-kata (multi tafsir atau banyak makna), kata-kata yang berjiwa, konotatif / polyinpretable (tambahan nilai-nilai rasa dan asosiasi-asosiasi tertentu),  serta pengulangan yang mengintensifkan hal-hal yang dilukiskan sehingga lebih menggugah hati. Menjawabi hal tersebut, kita telusuri salah satu puisi Penyair Kereta dengan judul “Yin dan Yang”; berikut puisinya:
Yin dan Yang
Hirup nafas detik ini
Melampaui oase kehidupan
Melayari petarungan kegelisahan
Antara Yin dan Yang yang malas bersentuhan

Ada jarak menjaga keduanya seimbang
Ada hati terketuk
Beringsut menjalin tapak kaki
Menata diri jalani hari
Sesuai nurani
Ikuti alur
Rapi
Ada hati terantuk
Beringsut menjauh lari
Menapak terjal
Ingkari suara
Hati

Kemana kemurnian sembunyi
Terhampar kehampaan
Melingkupi
Hati sepi
Hati sunyi
Tak berkawan
Denganmu lagi
Bercakap tak mampu lagi
Sepi terasa kian mengetat
Sesak merambah duka
Sampai lelana
Membuka tabir nasib
Hendak pertemukan dengan takdirnya

(JDK , 11 Desember 2015)

Membaca puisi Yin dan Yang, pembaca seolah diajak untuk sesaat bernostalgia dengan filosofi Tionghoa. Yin dan Yang digunakan untuk mendeskripsikan sifat kekuatan yang saling berhubungan dan berlawanan di dunia ini dan bagaimana mereka membangun satu sama lain.Yin dan Yangselalu dihubungkan dengan sesuatu yang baik dan jahat. Namun, filsafat Taoist biasanya tidak memperhitungkan sesuatu yang baik atau jahat dan penilaian moral, dalam kaitannya dengan konsep keseimbangan. Selengkapnya (baca: Yin dan Yang).

Penyair Kereta dalam puisiYin dan Yangberusaha menampilkan beberapa figura yang sangat menonjol.Figuratif yang saya maksudkan di sini tidak terbatas pada majas, tetapi lebih jauh dari itu adalah bahasa yang menyebabkan puisi menjadi prismatis, yaitu memancarkan banyak makna atau kaya akan makna (Waluyo, 1987: 83) atau menimbulkan konotasi tertentu (Soedjito, 1986: 128).

Pada bait pertama: Hirup nafas detik ini / melampaui oase kehidupan / melayari petarungan kegelisahan / antara Yin dan Yang yang malas bersentuhan. Penyair Kereta ingin mengungkapkan situasi tertentu di mana ia tengah menghadapi suatu “pergumulan”.Pada baris  ke-2, di sana ia menghadirkan oase sebagai gambaran kembara jiwa yang kemudian diperjelas pada baris  ke-3 melayari petarungan kegelisahan. Jika yang dimaksudkan adalah kegelisahan, maka kegelisahan yang bagaimana? Atau kegelisahan seperti apakah itu?Kita perhatikan pada baris  ke-4 dalam bait pertama: antara Yin dan Yang yang malas bersentuhan.Pada tahapan ini, kita diajak untuk memaknai filosofi Tionghoa itu sendiri; sebagaimana yang telah saya paparkan di atas. Kegelisahannya akan dua sisi kehidupan yang bertentangan; yang mustahil untuk dipersatukan. Manusia dalam dinamika kehidupannya mengalami dua sisi kehidupan yaitu terang dan kegelapan. Ketika kedua sisi tersebut dibawa dalam puisi, maka setiap penyair siapapun dia tentu mampu membahasakannya. 

Lalu, apa yang unik dari kegelisahan yang diungkapkan Penyair Kereta? Jika kita baca secara teliti pada keseluruhan bait pertama, maka dapat diasumsikan bahwa Penyair Kereta hanya mengulangi kegelisahan yang sama dalam pilihan diksi yang berbeda. Ambiguitas pun terjadi.Tetapi bukan berarti penafsiran dan pemahaman kita sebatas itu. Lebih jauh, kita dapat menemukan pesan di balik ambiguitas tersebut. Penyair Kereta membuka puisinya dengan kalimat hirup nafas detik ini.Nafas yang adalah kehidupan dihadapkan pada suatu kegelisahan jiwa. Kehidupan hakikatnya memiliki tahapan-tahapan tertentu, demikian pun dengan kegelisahan Penyair Kereta, sebagaimana digambarkan pada baris ke-2 dan ke-3 yang berpuncak pada baris  ke-4. Kegelisahan memiliki intensitas tersendiri; yang tentunya dapat kita temukan dalam bait-bait selanjutnya.

Puisi ini juga menawarkan rima luar yang . Masih pada bait pertama, abbb. Pada baris  ke-1 dibuka dengan vokal “i” yang ketika ditransformasikan ke dalam situasi kehidupan maka itulah nafas yang berhembus. Pada baris ke-2 dan seterusnya nafas itu tersendat dengan konsonan “n” yang adalah situasi kegelisahan.Di sini, tampaknya Penyair Kereta sangat hati-hati dalam memperhatikan  unsur pembentuk puisi dengan keserasian makna.

Selanjutnya pada bait ke-2, Penyair Kereta secara transparan membahasakan bagaimana situasi kegelisahan seperti menapaki sebuah perjalanan panjang.Ada jarak menjaga keduanya seimbang / Ada hati terketuk / Beringsut menjalin tapak kaki / Menata diri jalani hari / Sesuai nurani / Ikuti alur / Rapi.Pada baris  ke-1, dua situasi kehidupan (makna Yin dan Yang) menghadirkan kegelisahan pada takaran sebatas normal, wajar, seimbang dan serasi.Dalam situasi tersebut, hati juga tiada mengeluh (baris  ke-2) dan secara perlahan kegelisahan itu dinikmati bagai kaki yang melangkah secara perlahan menapaki perjalanan tersebut (baris  ke-3). Pada baris ke-4 dan ke-5, Penyair Kereta memberikan surpriseberupa rima datar;  Menata diri jalanihari/ Sesuai nurani /.Hal ini dipertegas dengan sungguh bahwa memang semuanya (kegelisahan) masih pada taraf normal sebagai makhluk yang rapuh kala menjalani kehidupan yang tengah dihidupi. Sedangkan pada baris ke-6 dan ke-7, Penyair Kereta tanpa bersembunyi (bersimbolkan Yang) menampilkan klimaks bait ke-2 (semacam suatu kesimpulan).

Di satu sisi, bait ke-3 dalam tipografi yang sama sebagaimana pada bait ke-2, kegelisahan tampak memasuki situasi “kegetiran.”Ada hati terantuk / Beringsut menjauh lari / Menapak terjal / Ingkari suara / Hati.Jika diperhatikan secara saksama, maka larik-larik dalam bait ke-3 ini merupakan antonim terhadap beberapa larik pada bait ke-2.Di sini, terjadi pengulangan kata dan bunyi(irama/ ritme) secara “bervariasi.” Hemat saya, tanpa dilagukan (musikalisasi puisi), irama / ritme dalam puisi Yin dan Yangtetap menawarkan nilai estetik tersendiri.Pada bait ke-3, kegelisahan makin “menggila”.Situasi ini merupakan sangkalan atas keseimbangan dan keserasian. Dalam konsep lain, Yin dan Yang digambarkan sebagai matahari di balik bukit yang menghadirkan bayangan bukit itu sendiri dan sekitarnya bergelimangan cahaya. Matahari yang terbenam semakin menyisakan bayangan bukit; yang dalam citraan Penyair Kereta kegelisahan digambarkan beringsut menjauh lari. Artinya bahwa sinar matahari itu telah enyah (Yang) dan menawarkan bayangan kegelapan (Yin). Kegelisahan semakin meraja.

Lalu, pada bait ke-5: pilihan diksi (dalam hal ini sinonimi) terhadap situasi yang hemat saya adalah “kesendirian” tampak menumpuk (pemborosan diksi) terhadap makna yang sama. Kita camkan bait ini: Kemana kemurnian sembunyi / Terhampar kehampaan / Melingkupi / Hati sepi / Hati sunyi / Tak berkawan / Denganmu lagi / Bercakap tak mampu lagi  / Sepi terasa kian mengetat / Sesak merambah duka / Sampai lelana / Membuka tabir nasib / Hendak pertemukan dengan takdirnya.Namun demikian, bukan berarti saya mengintervensi setiap kata dalam larik-larik tersebut yang memiliki kesamaan makna sejauh pemaknaan pembaca. Sebab dalam pilihan diksi, penyair dengan individualistic dan karakteristiknya memiliki makna tersendiri akan setiap kata yang ditulis. Terlepas dari hal tersebut, ada estetik yang lain yang patut digali. Bait ke-5 sarat akan asonansi. Pada baris ke-1, baris ke-2 dan baris  ke-3 terdapat pengulangan bunyi vokal “e” dan pada baris ke-4, baris ke-5 terdapat asonansi dengan vokal “i” berturut di dalamnnya rima sejajar. Asonansi yang diciptakan terdengar begitu merdu. Jika dikaitkan dengan “sense” puisi ini (Kegelisahan), maka Penyair Kereta ingin menandaskan bahwa akhirnya takdirlah yang mengubah segalanya. Bagaimana tidak? Lagi-lagi dengan sangat jeli, Penyair Kereta menutup puisinya dengan suatu refleksi mendalam pada dua baris terakhir bait ke-5: membuka tabir nasib / hendak pertemukan dengan takdirnya. Akhirnya, dengan tidak ragu saya boleh mengatakan bahwa Penyair Kereta dalam puisi Yin dan Yang telah mencapai puncak kriterium ekspresivitas.

Terlepas dari penjelajahan puisi di atas, Josip Novakovic (Sastrawan Kroasia) memulai karir menulisnya dengan menulis ratusan halaman apa pun yang ia bayangkan, tanpa peduli apakah tulisannya runut, indah, terstruktur atau tidak. Penyair Kereta sendiri dalam dunia kepenyairan mulai menulis puisi pada Juni 2015. Dalam kurun waktu kurang lebih sembilan bulan ia melahirkan ratusan puisi yang selama ini terkandung dalam rahim imajinya.Dalam profil yang sempat saya baca dalam media floressastra.com, ia menulis puisi-puisinya dalam perjalanan pergi – pulang, kunjung – mengunjung (telah disinggung di atas).Sebagian besar berlangsung di dalam kereta. Kekhasan lain yang tentunya tidak dimiliki oleh penyair lain pada umumnya adalah bahwa ia menulis puisi-puisinya dalam waktu 3 – 5 menit (puisi panjang).Di satu sisi, dapat kita mambayangkan situasi perjalanannya. Mengakrabi kebisingan pintalan rel, suara cerobong, rius-risih penumpang dan segala sumber suara; dibawanya ke dalam suasana “sunyi” yaitu ibadah puisi. Mengapa terjadi demikian?Logisnya bahwa, kandungan janin imaji yang bersemayam dalam rahim nubari seketika mencuat bagai magma dalam kandungan gunung api.Tanpa hambatan, puisi terlahir dengan normal dan lancar.

Dalam kacamata lain, pada tahapan ini saya berusaha untuk mentransformasikan kenyataan tersebut ke dalam “kegelisahan” yang telah dimaknai. Ketika dihubungkan dengan perjalanan “kepenyairan” seorang Julia Daniel Kotan. Tampak jelas bahwa dua hal yang saling bertentangan itu adalah kegelisahan Penyair Kereta akan luapan magma yang sangat agresif hingga pada situasi tertentu “mungkinlupa” untuk sejenak mendandani puisi.Sekali lagi saya tekankan, hanya pada situasi tertentu.

Jika demikian, apakah Penyair Kereta memiliki prinsip yang sama seperti Novakovic? Tidak! Sungguh tidak! Menariknya di sini adalah Penyair Kereta seolah telah mengetahui “luapan magma imajinya.”Sehingga dalam refleksinya (seturut tafsiran saya) ia mencari kemurnian yang bersembunyi(kesempurnaan dari karya sastra puisi itu sendiri) seiring berjalannya waktu. Tak lama. Dandanannya dalam tampilan beberapa puisi terakhir (tidak sempat dibahas dalam catatan ini)membahasakan bahwa Penyair Kereta telah menemukan tempat persembunyian  kemurnian itu.

Dengan demikian, berdasarkan pemaknaan / penafsiran tersebut kita dapat mengetahui situasi kejiwaan (psikologis) Penyair Kereta ketika menghadapi suasan kegelisahan. Kegelisahan tentunya akan merasuk ketika Penyair Kereta (Julia Daniel Kotan), saya, kamu, mereka, kita (logo-psikis); masuk dalam situasi “kesepian, kesendirian, kesunyian, kehampaan.” Jika kemudian kegelisahan itu tampak “brutal dan frontal” maka, dengan tegas kita boleh sepakat dengan Penyair Kereta bahwa tabir nasib hendaknya dibuka agar kita boleh bertemu dengan takdir. Di sini bukan perihal kepasrahan atau ketakberdayaan, tetapi bagaimana kita menyikapi situasi tersebut dalam suatu permenungan. Yah, permenungan yang tidak sebatas pada duduk, diam, termangu, termenung; tetapi permenungan yang memampukan kita untuk melahirkan janin imaji dari rahim nubari hingga terwujudlah apa yang kita sebut “Karya Sastra!!!” 

                            
Kupang, 29 Februari 2016

Catatan: tersebar pada media floressastra.com, edisi 01 Maret 2016





  


*Herman Efriyanto Tanouf, lahir di Insaka, 25 Februari 1990. Alumnus Seminari Lalian & Novisiat SVD St. Yosef Nenuk-Atambua. Kini sementara menempuh pendidikan S1 di Universitas Nusa Cendana Kupang, FKIP-PPKn. Karya-karya  termaktub dalam buku:  Nyanyian Sasando (Antologi Puisi Sastrawan NTT 2015), Antologi Puisi LCPGSH (Suratto Green Literary Award 2015), Perempuan dan Telapak Kaki (Antologi Puisi LCPN Sabana Pustaka 2015),  Di bawah Pohon Willow (Antologi Puisi LCPN Penerbit Genom 2016). Selain itu, karya-karya tersebar pada media lokal, media sosial, dan media nasional (floressastra.com, Harian Flores Pos, Harian  Media Indonesia). Pemenang naskah favorit dalam Lomba Cipta Puisi Nasional 2016 bertemakan “Hutan”. Salah satu dari 50 penyair pilihan dalam antologi puisi “Membaca Kartini” 2016, oleh Komunitas Joebawi. Aktif dalam berbagai kegiatan dan apresiasi sastra di NTT. Kini sedang bergiat di Komunitas Sastra Dunia Sunyi (Dusun) Flobamora – Kupang.

 

Comments